Google+ BERKAS EDUKASI

Buku Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD (Sekolah Dasar)

Kontributor : On 07.59.00

Berkas Buku Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD (Sekolah Dasar). Download file format .pdf.

Buku Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD (Sekolah Dasar)
Buku Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD (Sekolah Dasar)

Keterangan:
Berikut ini kutipan teks/keterangan dari berkas Buku Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD (Sekolah Dasar).

Setelah mengkaji unit demi unit materi mata kuliah Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) diharapkan Anda mampu menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, rancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran bahasa Indonesia SD.

Materi yang disajikan ini sangat berkaitan dengan mata kuliah Pemantapan Pengalaman Lapangan yang akan ditemui pada semester IV. Di samping itu, materi ini juga sangat bermanfaat bagi Anda dalam melaksanakan tugas sebagai guru yang profesional. Oleh karena itu, diharapkan Anda mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan mengerjakan semua tugas yang dianjurkan dalam buku ajar ini.

Untuk memperjelas pemahaman dan menambah wawasan yang berkaitan dengan materi buku ajar ini, Anda dapat memanfaatkan fasilitas yang Anda milik. misalnya, audio, video, komputer, dan internet. Jika menemui kesulitan, diskusikanlah dengan teman-teman, atau tanyakanlah kepada dosen atau tutor Anda. Kesampingkan dulu rasa segan, malu, atau takut bertanya.

Agar kompetensi yang diharapkan dalam buku ini tercapai, maka semua materi dalam mata kuliah ini disajikan dalam sembilan unit, sebagai berikut.
Unit 1 Prinsip-prinsip Dasar Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Unit 2 Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Unit 3 Metode dan Teknik Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Unit 4 Dasar-Dasar Pemilihan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Unit 5 Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD yang Inovatif
Unit 6 Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Unit 7 Prinsip-prinsip Pengembangan Rencana Pembelajaran
Unit 8 Praktik Pembelajaran Bahasa Indonesia SD Unit 9 Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia


Daftar Isi :
UNIT 1: PRINSIP-PRINSIP DASAR PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Subunit 1: Prinsip-prinsip Dasar Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar dalam Kurikulum 
Subunit 2: Prinsip Kontekstual, Fungsional, Integratif, dan Apresiatif

UNIT 2: PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Subunit 1: Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
Subunit 2: Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar

UNIT 3: STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Subunit 1: Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Lisan
Subunit 2: Strategi Pembelajaran Bahasa Tulis

UNIT 4: PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA YANG INOVATIF
Subunit 1: Pendekatan Kontekstual
Subunit 2: Pendekatan Komunikatif

UNIT 5: DASAR-DASAR MATERI AJAR
Subunit 1: Pemilihan Materi Ajar Didasarkan Pada Kurikulum
Subunit 2: Pemilihan Materi Ajar Didasarkan Pada Tingkat Perkembangan Peserta Didik, Lingkungan, dan Ketersediaan Sarana
Subunit 3: Kriteria Mengkaji Buku Paket

UNIT 6: PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Sub Unit 1: Teori Pengembangan Materi Ajar
Subunit 2: Praktikum Pengembangan Materi Ajar Bahasa Indonesia Sekolah Dasar

UNIT 7: PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Subunit 1: Media Pembelajaran
Subunit 2: Prinsip Pengembangan Desain Instruksional
Subunit 3: Rencana Program Pembelajaran Bahasa Indonesia

UNIT 8: PRAKTIK PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Subunit 1: Contoh-contoh Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
Subunit 2: Instrumen Penilaian Kinerja Guru

UNIT 9: PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Subunit 1 : Penilaian Proses dan Penilaian Hasil dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
Subunit 2: Teknik Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar: Tes dan Nontes

PRINSIP-PRINSIP DASAR PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR

Pendahuluan
Saudara, sudahkah Anda mengenal prinsip-prinsip dasar pembelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar (SD)? Tentunya sudah bukan? Bukankah Anda sudah lama menjadi guru? Sebagai guru SD, paling tidak, Anda harus mampu mengajarkan lima mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Oleh karena itu, Anda dituntut untuk menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran kelima mata pelajaran tersebut, bukan sekedar mengenal.

Berkaitan dengan tuntutan di atas, pada Unit 1 ini Anda akan diajak untuk mencermati kembali prinsip-prinsip dasar pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Kajian materi unit ini sangat bermanfaat bagi Anda dalam melaksanakan tugas sebagai guru yang profesional.

Kajian materi unit ini dikemas ke dalam dua subunit, seperti berikut.
  1. Subunit 1 Prinsip-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia SD dalam Kurikulum
  2. Subunit 2 Prinsip kontekstual, integratif, fungsional, dan apresiatif.
Setelah Anda selesai mengkaji materi Unit 1, kompetensi yang diharapkan adalah Anda dapat menjelaskan (1) prinsip-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia SD dalam Kurikulum, (2) prinsip kontekstual, integratif, fungsional, dan apresiatif. Pada gilirannya kelak, Anda pun diharapkan dapat menerapkannya saat ber-PPL (Pemantapan Pengalaman Lapangan) pada semester ujung.

Kajian materi unit ini juga dapat membantu Anda pada saat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dikaji dalam Unit 7 dan pada saat bersimulasi yang dibicarakan pada Unit 8.

Prinsip-prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar dalam Kurikulum. Saudara, tentunya Anda sudah mendengar bahkan mungkin tidak asing lagi dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi atau disingkat menjadi KBK, yang disebut juga Kurikulum 2004. Kurikulum ini mulai diberlakukan pada tahun pelajaran 2004. Kurikulum ini oleh pengembangnya (Pusat Kurikulum dan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasonal) disebut kurikulum “baru” karena berbeda dengan kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum 1994 (Karhami, 2002).

Pada tahun 2006, Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) telah menyusun contoh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dlengkapi dengan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Prinsip-prinsip yang terdapat di dalamnya tidak jauh berbeda dengan Kurikulum 1994 dan 2004. Salah satu persamaannya adalah berbasis kompetensi.

Sebenarnya prinsip-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum-kurikulum tersebut merupakan ramuan dari beberapa prinsip. Pada subunit ini akan disajikan sekilas sejarah singkat, pengertian, dan prinsip-prinsip KBK, yang harus dipedomani dalam mengajarkan bahasa Indonesia. 

Prinsip Kontekstual, Fungsional, Integratif, dan Apresiatif
Pada Subunit 1, Anda telah mempelajari prinsip-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia SD dalam kurikulum. Di dalamnya dijelaskan bahwa Kurikulum 2004 pada hakikatnya adalah kurikulum yang biasa disebut dengan KBK. Dalam kurikulum ini, kita dianjurkan melaksanakan prinsip kontekstual, integratif, dan fungsional. Agar kita dapat melaksanakan ketiga prinsip tersebut mari kita ikuti paparan berikut.

Prinsip Kontekstual
Saudara, apa yang dimaksud dengan prinsip kontekstual itu? Purnomo (2002:10) mengungkapkan bahwa kontekstual adalah pembelajaran yang dilakukan secara konteks, baik konteks linguistik maupun konteks nonlinguistik. Sementara Depdiknas (2002:5) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen untuk pembelajaran efektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenarnya.

1. Konstruktivisme (Constructivism)
Dalam teori konstruktivisme dijelaskan bahwa struktur pengetahuan dikembangkan oleh otak manusia melalui dua cara, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibangun atas dasar pengetahuan yang sudah ada. Sementara itu, akomodasi adalah struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan hadirnya pengalaman baru. Bagaimana pelaksanaannya di kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia sehari- hari adalah dapat diwujudkan dalam bentuk peserta didik disuruh menulis/mengarang dan atau bercerita di depan kelas. 

2. Menemukan (Inquiry)
Komponen inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik bukan hasil mengingat seperangkat fakta, melainkan dari hasil menemukan sendiri. Kegiatan inkuiri dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Merumuskan masalah
b. Mengamati/melakukan observasi
c. Menganalisis dan menyajikan hasil
d. Mengkomunikasikan kepada pembaca

3. Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan strategi utama dalam pembelajaran berbasis kontekstual. Tujuan bertanya adalah untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian kepada aspek yang belum diketahuinya. Kegiatan bertanya dapat diterapkan dalam bentuk ketika peserta didik berdiskusi, bekerja dalam kelompok, menemui kesulitan, mengamati sesuatu. Kegiatan bertanya ini dapat dilakukan antara sesama peserta didik, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan nara sumber.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Ciri kelas berbasis masyarakat belajar adalah pembelajaran dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok. Hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama. Kelompok belajar disarankan terdiri atas peserta didik yang kemampuannya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu membimbing yang belum tahu, yang memiliki gagasan segera menyampaikan usulnya. Kelompok belajar bisa bervariasi, baik jumlahnya, maupun keanggotaannya, bisa juga melibatkan peserta didik di kelas atasnya.

5. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan dalam pembelajaran dilakukan dengan cara memberikan model atau contoh yang perlu ditiru. Anda yang merasa kurang mampu membacakan puisi, atau bermain drama, tidak perlu cemas karena guru bukan satu-satunya yang dapat dijadikan model. Anda dapat meminta kepada teman sejawat, atau mendatangkan pihak luar, pembaca puisi, atau pemain drama yang sudah terkenal. Dengan demikian Anda pun dapat melaksanakan pembelajaran puisi drama lewat model tadi. Demikian pula pembelajaran menulis/mengarang kita dapat memberikan contoh-contoh tulisan yang baik yang telah kita pilih. 

6. Refleksi (Reflection)
Anda mungkin sudah mendengar istilah “refleksi”, tetapi jangan keliru dengan refleksi yang berkaitan dengan dunia “urut” atau “panti pijat”. Refleksi yang dimaksud di sini adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang baru dilakukan. Refleksi juga merupakan tanggapan terhadap kegiatan yang baru dilakukan atau pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran, kita menyediakan waktu sejenak agar peserta didik melakukan refleksi. Kegiatan refleksi ini diwujudkan dalam bentuk:
a. pernyataan langsung tentang semua yang diperolehnya,
b. catatan di buku peserta didik,
c. kesan dan saran peserta didik tentang pembelajaran yang telah 
d. berlangsung,
e. diskusi; dan
f. hasil karya.

7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian pembelajaran berbasis kontekstual ini dilakukan dengan mengamati peserta didik menggunakan bahasa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kemajuan belajar juga dinilai dari proses, bukan semata-mata dari hasil. Penilaian bukan hanya oleh guru, melainkan bisa juga dari teman atau orang lain. Asesmen autentik dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung secara berkesinambungan dan terintegrasi. Asesmen tersebut pun dilaksanakan untuk keterampilan performansi.

Prinsip Integratif
Mungkin Anda pernah mendengar bahwa salah satu hakikat bahasa adalah sebuah sistem. Apa yang Anda dengar itu, memang benar. Salah satu hakikat bahasa adalah suatu sistem. Hal ini senada dengan pendapat Maksan (1994: 2) yang mengatakan, bahwa bahasa adalah suatu sistem. Hal tersebut berarti suatu keseluruhan kegiatan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan untuk mencapai tujuan berbahasa yaitu berkomunikasi.

Manakah yang dimaksud dengan subsistem dari bahasa itu? Tentu Anda masih ingat. Subsistem bahasa adalah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Keempat subsistem ini tidak dapat berdiri sendiri. Artinya, pada saat kita menggunakan bahasa, tidak hanya menggunakan salah satu unsur tersebut saja. Pada waktu berbicara, kita menggunakan kata. Kata disusun menjadi kalimat. Kalimat diucapkan dengan menggunakan intonasi yang tepat. Dalam kaitan ini, secara tidak sadar, kita telah memadukan unsur fonologi (lafal, intonasi), morfologi (kata), sintaksis (kalimat), dan semantik (makna kalimat).

Berdasarkan kenyataan di atas, maka pembelajaran bahasa hendaknya tidak disajikan secara terpisah-pisah. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus secara terpadu atau terintegratif. Kita mengajarkan kosa kata, bisa dipadukan pada pembelajaran membaca, menulis, atau berbicara. Mengajarkan kalimat, bisa kita padukan dengan menyimak, berbicara, membaca, atau menulis.

Demikianlah pula pada saat pembelajaran keempat aspek keterampilan berbahasa disajikan, kita tidak hanya mengajarkan berbicara saja, tetapi secara tidak langsung kita pun mengajarkan menyimak. Kegiatan berbicara tidak dapat berlangsung tanpa ada kegiatan menyimak. Begitu pula pada saat pembelajaran menulis atau mengarang berlangsung, akan berpadu pulalah dengan pembelajaran membaca.

Jadi jelaslah, bahwa pembelajaran bahasa Indonesia tidak dapat disajikan secara terpisah-pisah. Pembelajaran bahasa Indonesia harus diajarkan secara terpadu.

Prinsip Fungsional
Saudara, tentunya Anda tidak asing lagi dengan Kurikulum 2004. Dalam kurikulum ini dinyatakan bahwa tujuan pembelajaran bahasa Indonesia adalah agar peserta didik dapat menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan baik dan benar. Hal ini sejalan dengan prisip pembelajaran bahasa yang fungsional, yaitu pembelajaran bahasa harus dikaitkan dengan fungsinya, baik dalam berkomunikasi maupun dalam memenuhi keterampilan untuk hidup (Purnomo, 2002: 10-11).

Prinsip fungsional pembelajaran bahasa pada hakikatnya sejalan dengan konsep pembelajaran pendekatan komunikatif. Konsep pendekatan komunikatif mengisyaratkan bahwa guru bukanlah penguasa dalam kelas. Guru bukanlah satu-satunya pemberi informasi dan sumber belajar. Sebaliknya, guru sebagai penerima informasi (Hairuddin, 2000:136). Jadi pembelajaran didasarkan pada multisumber. Dengan kata lain, sumber belajar terdiri atas guru, peserta didik, dan lingkungan. Lingkungan terdekat adalah kelas. Lebih tegas lagi Tarigan (dalam Hairuddin, 2000:136) mengungkapkan bahwa dalam konsep pendekatan komunikatif peran guru adalah sebagai pembelajar dalam proses belajar-mengajar, di samping sebagai pengorganisasi, pembimbing, dan peneliti. 

Pelaksanaan pembelajaran bahasa di kelas yang fungsional ini adalah menggunakan teknik bermain peran.

Prinsip Apresiatif
Saudara, akhirnya pembicaraan kita sampailah pada prinsip apresiatif. Apa sebenarnya prinsip apresiatif ini? Prinsip apresiatif lebih ditekankan pada pembelajaran sastra. Istilah prinsip apresiatif berasal dari kata kerja dalam bahasa Inggris ”appreciati” yang berarti menghargai, menilai, menjadi kata sifat “appresiative” yang berarti senang (Echols dan Shadely, Hasan, 1993:35). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:46) kata “apresiasi” berarti “penghargaan”. Dalam buku ajar ini istilah apresiatif dimaknai yang “menyenangkan”. Jadi prinsip apresiatif berarti prinsip pembelajaran yang menyenangkan.

Menilik artinya tersebut berarti prinsip ini tidak hanya berlaku bagi pembelajaran sastra, tetapi juga bagi pembelajaran aspek yang lain, bahkan untuk mata pelajaran di luar mata pelajaran bahasa Indonesia. Namun, karena yang menggunakan istilah ini hanya pembelajaran sastra, seperti yang tercantum dalam Kurikulum 2004, apresiasi sastra merupakan salah satu komponen dari standar kompetensi di SD dan MI (madrasah ibtidaiyah) yang diintegrasikan pada aspek keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Pelaksanaan pelajaran Bahasa Indonesia di kelas menurut konstruktivisme diwujudkan dalam bentuk peserta didik disuruh menulis/mengarang dan bercerita.

Kegiatan inkuiri dilakukan dengan langkah-langkah: (1) merumuskan masalah, (2) melakukan pengamatan, (3) menganalisis hasil pengamatan, dan (4) mengkomunikasikan kepada orang lain.

Kegiatan bertanya diterapkan pada waktu diskusi, kerja kelompok, menemui kesulitan, dan mengamati sesuatu.

Prinsip “komponen masyarakat belajar” menghendaki agar kelas dibagi atas beberapa kelompok. Pemodelan dalam pembelajaran dilakukan dengan cara memberikan contoh yang harus ditiru oleh peserta didik. Refleksi dilakukan untuk berpikir tentang apa yang baru dilakukan, untuk direnungkan. Penilaian dilakukan dari proses dan hasil belajar. Berdasarkan prinsip integratif pembelajaran bahasa dilakukan secara terpadu antara beberapa unsure kebahasaan, dan aspek berbahasa.

Tujuan akhir yang hendak dicapai dalam pembelajaran bahasa berdasarkan prinsip komunikatif adalah peserta didik dapat menggunakan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.

Pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
Saudara, dalam subunit 1 ini Anda dapat menikmati sajian materi yang berkaitan dengan profesi Anda sebagai guru bahasa Indonesia di SD. Kajian ini merupakan landasan pijak dalam melaksanakan pengajaran bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Pendekatan yang telah lama diterapkan dalam pembelajaran bahasa adalah antara lain pendekatan tujuan, pendekatan struktural, dan pendekatan keterampilan proses. Kemudian menyusul pendekatan-pendekatan yang dipandang lebih sesuai dengan hakikat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan whole language, pendekatan komunikatif, pendekatan kontekstual, dan pendekatan terpadu. Dalam subunit 1 ini akan dibahas pendekatan tujuan, pendekatan struktural, pendekatan keterampilan proses, dan pendekatan whole language. Pendekatan komunikatif dan pendekatan kontekstual akan dibahas pada unit 4. Untuk memudahkan memahami isi subunit 1 ini, sebaiknya Anda mempelajari dahulu pengertian pendekatan.

Pengertian Pendekatan
Pada umumnya kata approach diartikan pendekatan. Dalam pengajaran, kata ini lebih tepat diartikan a way of beginning something. Jadi, kalau diterjemahkan, approach adalah cara memulai sesuatu. Dalam hal ini, yaitu cara memulai pengajaran bahasa. Lebih luas lagi, approach adalah seperangkat asumsi tentang hakikat bahasa, pengajaran bahasa dan proses belajar bahasa.

Berbagai asumsi yang terdapat dalam bahasa yang dikemukakan Ramelan (dalam Zuchdi 1996: 29) mengutip Anthony yang mengatakan bahwa pendekatan ini mengacu pada seperangkat asumsi yang saling berkaitan, dan berhubungan dengan sifat bahasa, serta pengajaran bahasa. Pendekatan merupakan dasar teoretis untuk suatu metode. Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggap bahasa sebagai kebiasaan; ada pula yang menganggap bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang pada dasarnya dilisankan; dan ada lagi yang menganggap bahasa sebagai seperangkat kaidah. 

Asumsi-asumsi tersebut di atas menimbulkan pendekatan-pendekatan yang berbeda, yakni:
  1. pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha membiasakan diri menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Tekanannya pada pembiasaan;
  2. pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan. Tekanan pembelajarannya pada pemerolehan kemampuan berbicara;
  3. pendekatan yang mendasari pendapat bahwa pembelajaran bahasa, yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran. Tekan pembelajarannya pada aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan bahasa.

Berdasarkan asumsi-asumsi itulah muncul pendekatan pengajaran yang dianggap cocok bagi asumsi-asumsi tersebut. Asumsi terhadap bahasa sebagai alat komunikasi dan bahwa belajar bahasa yang terpenting adalah melalui komunikasi, maka lahirlah pendekatan komunikatif.

Asumsi yang berbeda, akan menimbulkan pendekatan yang berbeda. Dari asumsi-asumsi pandangan behaviorisme misalnya, maka muncul pendekatan struktural. Dari asumsi pandangan konstruktivisme, maka lahirlah pendekatan konstruktivisme. Demikian pula dari asumsi-asumsi humanisme lahirlah pendekatan komunikatif.

Penggunaan pendekatan dalam pengajaran bahasa menyikapi: (1) cara pandang seseorang dalam menyikapi bahasa sebagai materi pelajaran, (2) isi pembelajaran, (3) teknik dan proses pembelajaran, serta (4) perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran. Berikut ini akan disajikan beberapa metode pembelajaran dalam bahasa Indonesia di SD.

Pendekatan Tujuan
Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar-mengajar yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi, proses belajar-mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan, untuk mencapai tujuan itu sendiri. 

Seperti kita ketahui Kurikulum 1975 merupakan kurikulum yang berorientasi pada pendekatan tujuan; demikian pula bidang studi bahasa Indonesia. Oleh karena orientasinya pada tujuan, maka pembelajarannya pun penekanannya pada tercapainya tujuan. Misalnya contoh berikut ini. Untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”. Dengan berdasar pada pendekatan tujuan, maka yang penting ialah tercapainya tujuan, yakni siswa memiliki kemampuan mengarang. Adapun mengenai bagaimana proses pembel- ajarannya, bagaimana metodenya, bagaimana teknik pembelajaran tidak merupakan masalah yang penting.

Demikian pula kalau misalnya yang diajarkan pokok bahasan struktur dengan tujuan “Siswa memiliki pemahaman mengenai bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia”. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran morfologi bahasa Indonesia.

Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan “cara belajar tuntas”. Dengan “cara belajar tuntas”, berarti suatu kegiatan belajar-mengajar dianggap berhasil, apabila sedikit-dikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penentuan keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif; jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan betul minimal 75% dari soal yang diberikan guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.

Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, mofologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Jelas, bahwa aspek kognitif bahasa diutamakan.

Di samping kelemahan, pendekatan ini juga memiliki kelebihan. Dengan struk- tural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya. Misalnya saja, mereka mungkin tidak akan membuat kesalahan seperti di bawah ini.

“Bajunya anak itu baru”. 
“Di sekolahhan kami mengadakan pertandingan sepak bola”. 
“Anak-anak itu lari-lari di halaman”.

Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Bahasa
Setiap manusia yang dilahirkan dibekali dengan kemampuan dasar. Kemam- puan dasar ini tumbuh dan berkembang bila dibina dan dilatih. Sebaliknya, kemampuan dasar itu dapat terpendam bila tidak dibina. Melalui CBSA, guru mengembangkan kemampuan dasar siswa menjadi keterampilan intelektual, sosial, dan fisik. Kepada siswa tidak hanya diberikan “apa yang harus dipelajari” tetapi yang lebih penting lagi “bagaimana cara mempelajarinya”. Siswa diajari bagaimana cara belajar yang baik atau belajar bagimana belajar

Dalam proses belajar atau belajar bagaimana belajar diperlukan keterampilan intelektual, keterampilan sosial, dan keterampilan fisik. Ketiga keterampilan inilah yang disebut keterampilan proses. Setiap keterampilan ini terdiri atas sejumlah keterampilan. Dengan perkataan lain keterampilan proses terdiri atas sejumlah sub- keterampilan proses.

Keterampilan proses berfungsi sebagai alat menemukan dan mengembangkan konsep. Konsep yang telah ditemukan atau dikembangkan berfungsi pula sebagai penunjang keterampilan proses. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan pengembangan konsep dalam proses belajar-mengajar menghasilkan sikap dan nilai dalam diri siswa. Tanda-tandanya terlihat pada diri siswa seperti, teliti, kreatif, kritis, objektif, tenggang rasa, bertanggung jawab, jujur, terbuka, dapat bekerja sama , rajin, dan sebagainya.

Keterampilan proses dibangun oleh sejumlah keterampilan-keterampilan. Karena itu pencapaian atau pengembangnya dilaksanakan dalam setiap proses belajar-mengajar dalam semua mata palajaran. Tidak ada satu pelajaran pun yang dapat mengembangkan keterampilan itu secara utuh. Karena itu pula, ada keteram- pilan yang cocok dikembangkan oleh pelajaran tertentu dan kurang cocok dikembangkan oleh mata pelajaran lainnya.

Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik sendiri. Karena itu penjabaran keterampilan proses dapat berbeda pada setiap mata pelajaran. Perbedaan itu sifatnnya tidak mendasar tetapi hanyalah variasi-variasi belaka. Sebagai contoh, mari kita perhatikan bagaimana keterampilan proses dijabarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Penjabaran itu sudah memenuhi karakter bahasa Indonesia itu sendiri. Penjabaran sebagai berikut. 

1. Mengamati
a. Menatap: memperhatikan.
b. Membaca: memahami suatu bacaan.
c. Menyimak: memahami sesuatu yang dibicarakan orang lain.

2. Menggolongkan
Mencari persamaan, perbedaan atau penggolongan (dapat berupa wacana, kalimat, dan kosa kata).

3. Menafsirkan
a. Menafsirkan: mencari atau menemukan arti, situasi, pola, kesimpulan dan mengelompokkan suatu wacana.
b. Mencari dasar penggolongan: mengelompokkan sesuatu berdasarkan suatu kaidah, dapat berupa kata dasar, kata bentukan, jenis kata, pola kalimat ataupun wacana.
c. Memberi arti: mencari arti kata-kata atau mencari pengertian sesuatu wacana kemudian mengutarakan kembali baik lisan maupun tertulis.
d. Mencari hubungan situasi: mencari atau menebak waktu kejadian dari suatu wacana puisi. Menghubungkan antarsituasi yang satu dengan yang lain dari beberapa wacana.
e. Menemukan pola: menentukan atau menebak suatu pola cerita yang berupa prosa maupun pola kalimat.
f. Menarik kesimpulan: mengambil suatu kesimpulan dari suatu wacana secara induktif maupun deduktif.
g. Menggeneralisasikan: mengambil kesimpulan secara induktif atau dari ruang lingkup yang lebih luas daripada menarik kesimpulan.
h. Mengalisis: menganalisis suatu wacana berdasarkan paragraf, kalimat, dan unsur-unsur.

4. Menerapkan
Menggunakan konsep: kaidah bahasa dalam menyusun dapat berupa penulisan wacana, karangan, surat-menyurat, kalimat-kalimat, kata bentukan dengan memperhatikan ejaan/kaidah bahasa.

5. Mengkomunikasikan
a. Berdiskusi: melakukan diskusi dan tanya jawab dengan memakai argumen- tasi/alasan-alasan dan bukti-bukti untuk memecahkan suatu masalah.
b. Mendeklamasikan: melakukan deklamasi suatu puisi dengan menjiwai sesuatu yang dideklamasikan (dapat dengan menggerakkan anggota badan, kepala, pandangan mata, atau perubahan air muka).
c. Dramatisasi: menirukan sesuatu perilaku dengan penjiwaan yang mendalam. 
d. Bertanya: mengajukan berbagai jenis pertanyaan yang mengarah kepada: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, atau evaluasi.
e. Mengarang: menulis sesuatu dapat dengan melihat objeknya yang nyata dulu dengan bantuan gambar atau tanpa bantuan apa-apa.
f. Mendramakan/bermain drama: memainkan sesuatu teks cerita persis seperti apa yang tertera pada bacaan.
g. Mengungkapkan/melaporkan sesuatu dalam bentuk lisan dan tulisan: melaporkan darmawisata, pertandingan, peninjauan ke lapangan, dan sebagainya.

Keterampilan proses berkaitan dengan kemampuan. Oleh karena itu penerapan keterampilan proses diletakkan atau inklusif dalam kompetensi dasar. Keterampilan proses juga dikenali pada instruksi yang disampaikan oleh guru kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu.

Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa
Pendekatan whole language (diambil dari Suratinah; 2003:2.1) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran bahasa yang mulai diperkenalkan di Indonesia. Keampuhan pendekatan ini telah banyak dibuktikan oleh beberapa negara yang menggunakannya. Anda perlu memahami pendekatan ini dengan baik agar dapat menerapkannya di kelas. Untuk itu dalam subunit ini akan diuraikan tentang pendekatan whole language sehingga pada akhir subunit ini Anda akan dapat menjelaskan konsep pendekatan whole language dan kemudian menerapkan pendekatan tersebut dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SD.

File Preview:
Selengkapnya mengenai isi dan susunan berkas Buku Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD (Sekolah Dasar) ini, silahkan lihat file preview di bawah ini.

Buku Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD (Sekolah Dasar)



Download:
Bahan Ajar Cetak Pembelajaran Bahasa Indonesia - Hairuddin, dkk..pdf

Bagikan/Share halaman ini melalui Facebook

Klik G+1 untuk merekomendasikan ke teman/rekan Anda

Silahkan bagikan dan beritahukan atau rekomendasikan berkas ini ke teman atau rekan Anda melalui sosial media dengan menekan icon-icon di bawah ini. Terima Kasih.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »